Hubungan Iman dan
Perbuatan Menurut Etika Kristen
I.
Pendahuluan
Keselamatan adalah anugerah Allah semata-mata. Manusia menerima keselamatan dari
Allah hanya karena iman, bukan karena perbuatan. Setelah menerima keselamatan
dengan cara demikian, manusia harus mengerjakan keselamatan itu di dalam
kehidupan melalui perbuatan-perbuatan yang manusia lakukan dan kerjakan. Pada pertemuan
kali ini kita akan membahas mengenai hubungan iman dan perbuatan menurut etika
Krisen. Semoga sajian ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
II.
Pembahasan
2.1.
Pengertian
Iman
Iman
dalam bahasa Yunaninya adalah psitis.Kata itu berarti mempunyai kepercayaan
atau rasa percaya diri. Saat
kita berjalan dalam iman, kita
sedang mempercayai dan memperlihatkan rasa percaya diri dalam Tuhan di tengah-tengah
keadaan kita. Dalam ibrani 11:1 dikatakan bahwa iman adalah dasar (penegasan,
perbuatan utama) dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti (iman yang
melihat sebagai fakta nyata apa yang
tidak diungkapkan kepada pancaindra) dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.[1] Iman juga berarti
memegang teguh janji Allah di dalam Kristus. Iman mencakup
kepercayaan yang utuh dan ketaatan mutlak kepada Allah.[2] Iman juga dipandang
sebagai penyerahan diri secara pribadi kepada Allah (fides qua).[3] Iman juga berarti
kepercayaan atau keyakinan kepada Allah, ketetapan hati ataupun keteguhan hati.[4] Di
dalam Perjanjian Lama kata iman berasal dari kata kerja aman, yang berarti
“memegang teguh” dalam arti “memegang teguh kepada janji seseorang, karena
janji itu dianggap teguh atau kuat, sehingga dapat diamini, dipercaya Oleh karena itu,
beriman kepada Allah berarti mengamini, bukan hanya dengan akalnya, melainkan
juga dengan segenap kepribadian dan cara hidupnya, kepada segala janji Allah
yang telah diberikan dengan perantaraan firman dan karyaNya.[5]
2.1.1.
Unsur
iman[6]
a.
Iman
Sebagai Kepercayaan Dan Kesetiaan Kepada Hal Yang Dianggap Terpenting
Iman
adalah kepercayaan yang praktis pada sesuatu yang lebih dihargai dari pada
semua yang lain. Iman adalah kesetiaan kepada hal yang kita anggap paling pokok
dalam kehidupan kita, pusat yang memberi arti kepada seluruh kehidupan kita. Iman kita memang
mempengaruhi perbuatan kita. Iman
selalu mengandung kepercayaan, dan kesetiaan. Kesetiaan itu sepasang
dengan kepercayaan.
b.
Iman Sebagai Hubungan Perorangan Dengan Allah
Iman
kristen berarti persekutan dengan Allah,
persatuan dengan Dia, penyerahan diri ke dalam tanganNya. Perbuatan Allah
membangkitkan iman kita. Sehingga iman kita sebagai tanggapan kepadaNya. Allah
yang Maha Kuasa dan Maha Kudus hendak berhubungan akrab dengan kita makhluk
yang berdosa. KeagunganNya
membangkitkan rasa terpesona dalam kita. Dia juga Bapa yang baik
hati dan penuh kasih. Dia
mengkehendaki supaya kita patuh dan percaya kepadaNya.
c.
Iman Sebagai Pengikutsertaan Dalam Pekerjaan Allah
Kita
selalu mengalami kesukaran dalam menafsirkan tanda-tanda kehadiran Allah
disekitar kita. Pertama,
pekerjaan Allah bersifat tersembunyi. Dan tidak mengiklankan perbuatanNya. Allah biasanya tidak
memberikan tanda spektakuler yang menunjukkan kehadiranNya secara nyata. Kedua, bukan Allah saja
yang bekerja dalam dunia melainkan manusia dan kuasa-kuasa gelap
juga bekerja.Pekerjaan Allah sukar dilihat karena dengan perbuatan manusia yang
tidak selalu selaras dengan kehendak Allah. Perbuatan atau
pekerjaan Allah hanya bisa dilihat dengan iman, dan kita harus mencoba mengerti
dan menanggapi pekerjaan Allah dalam dunia dan kehidupan kita.
d.
Iman
Sebagai Pendirian Tentang Apa Yang Benar
Teologia
menguraikan sifat dasar dunia, etika menguraikan tanggung jawab manusia berdasarkan
sifat dasar dunia itu. Karena
adalah baik bila menciptakan dunia yang baik, kita harus berbuat baik (Matius
5:48). Karena
Tuhan Allah kita adalah kudus, maka kita harus kudus (Im. 19: 2). Dalam etika Kristen
perintah Tuhan berdasar atas sifatNya dan pekerjaanNya. Theologia Kristen
berkata bahwa dunia menuju keadilan, kebaikan, kasih, dan ketulusan.
2.2.
Perbuatan
2.2.1.
Defenisi
Perbuatan
Dalam
KBBI “Perbuatan” adalah yang menunjukkan suatu tingkah laku mengerjakan,
membuat, dan melakukan sesuatu hal mengenai perbuatan atau perlakuan. Baik itu perlakuan
buruk, maupun perlakuan baik.[7] Perbuatan
dalam PB menyatakan perilaku kemanusiaan. Perbuatan baik adalah jawaban manusia
atas anugerah Allah, tetapi manusia tidak memperoleh Anugerah Allah oleh
perbuatan baik.[8]
2.2.2.
Tabiat (Karakter) dan Perbuatan
Tabiat yang baik menghasilkan kelakuan yang baik. Orang-orang yang jujur
biasanya menyatakan yang benar. Orang-orang yang berani cenderung bertindak
dengan berani. Orang-orang yang tamak cenderung melakukan apa saja yang perlu
untuk beroleh banyak. Meskipun perbuatan-perbuatan kita ialah hasil tabiat kita
seperti halnya buah adalah hasil pohon namun tabiat tidak menentukan perbuatan
seperti pohon menentukan buahnya. Tabiat kita mempengaruhi kita. Tabiat yang
utuh memberi kemantapan dan kuasa kepada perbuatan-perbuatan kita. Tabiat dapat
didefenisikan sebagai susunan batin seseorang yang memberi arah dan ketertiban
kepada keinginan, kesukaan dan perbuatan orang itu. Perbuatan-perbuatan yang sesuai
dengan tabiat kita lebih mudah dilakukan dan tidak menyebabkan konflik batin.
Perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan tabiat kita lebih sukar dilakukan
dan biasanya menyebabkan konflik batin.[9]
2.3.
Iman
dan Perbuatan
Rasul Paulus menyatakan bahwa, “Kita
dibenarkan hanya oleh iman dan bukan oleh perbuatan-perbuatan berdasarkan hukum
taurat (Rm 3:28).[10]Relasi
antara iman dan perbuatan baik merupakan suatu hal yang dapat dibedakan tetapi
tidak dapat dipisahkan. Meskipun perbuatan-perbuatan baik kita tidak
menambahkan apa-apa bagi iman kita dihadapan Allah, meskipun kondisi
satu-satunya dari pembenaran kita adalah iman kita di dalam Kristus, tetapi
apabila perbuatan-perbuatan baik tidak mengikuti pengakuan iman kita, maka itu merupakan
indikasi yang nyata bahwa tidak memiliki iman yang membenarkan. Pembenaran yang
sejati selalu menghasikan
perbuatan-perbuatan baik di dalam proses pengudusan.[11] Yesus
berkata “apapun yang dilakukan seseorang bagi saudaranya yang paling hina,
dilakukannya bagi Yesus”. Yesus mengatakan bahwa kalau kita membuka hati pada
sesama kita seakan-akan membukanya pada Yesus. Melainkan, dalam sesama yang
berkebutuhan kita betul-betul bertemu Yesus! Maka orang yang membuka hatinya
kepada saudaranya bukan karena perhitungan, atau karena diancam, atau karena
khawatir dianggap egois, melainkan karena hatinya menyadari bahwa ia dibutuhkan
dan ia membuka hatinya dan tangannya, dia itu sekaligus mengambil sikap terhadap
Yang baik Yang Mutlak. Dan itu hanya dapat dilakukan dalam kekuatan Roh Allah
yang sekaligus Roh Yesus. Keterbukaan hatinya adalah iman dalam arti yang
sebenar-benarnya karena berarti ia mengambil sikap terhadap panggilan Yang
Mutlak dan Yang baik.[12]
2.4. Hubungan Iman dan
Perbuatan Menurut Etika Kristen
Orang
Kristen yang tetap tidak yakin akan status keselamatan mereka disebabkan oleh
berbagai macam pertanyaan yang menyebabkan mereka lumpuh dalam berjalan bersama
Kristus. Mereka tersandung dalam keraguan dan sangat rapuh dan mudah diserang
oleh setan. Seseorang dapat berpikir bahwa ia memilki iman yang menyelamatkan
tetapi sebenarnya ia belum memilikinya. Pengujian untuk jaminan keselamatan
yang otentik bisa di lihat dari dua sisi. Yang pertama, kita
harus menguji hati kita sendiri untuk melihat apakah kita memiliki iman yang
benar di dalam Kristus. Kita
harus memeriksa apakah kita memiliki kasih yang sejati pada Kristus yang
dinyatakan di dalam Alkitab. Kedua,
kita harus memeriksa buah dari iman kita.[13] Iman tidak mungkin bisa dipisahkan dengan
perbuatan-perbuatan, karena seseorang yang mengaku diri beriman kepada Allah,
ia harus menjalankan perintah-perintah-Nya dan otomatis perbuatan-perbuatannya
mencerminkan bahwa seseorang itu beriman kepada Allah atau bukan. Doren
Wjdana menyatakan bahwa Perbuatan tanpa iman adalah perbuatan yang sia-sia. Iman tanpa perbuatan adalah iman
yang kosong. Iman yang bekerja sama dengan perbuatan adalah iman sejati.[14]
2.5. Iman dan Perbuatan
dalam Konteks Keselamatan
1.
Iman Sejati Dipraktekkan Dalam
Perbuatan
Tidak ada gunanya kalau seseorang mempunyai iman yang tidak
disertai perbuatan. Iman itu sendiri tidak dapat menyelamatkan atau dengan kata
lain iman itu tidak akan diterima Allah. Disini yang dimaksud adalah
perbuatan-perbuatan baik seperti belas kasihan dan pemberian sedekah kepada
orang miskin yang berkekurangan (Yakobus
2:24-26); Perbuatan iman hasil moral dari kesalehan sejati dan khususnya
perbuatan kasih. Iman yang tidak disertai dengan perbuatan adalah iman yang
palsu. Hanya iman palsu yang tidak dapat menghasilkan perbuatan dan
tidak mampu menyelamatkan. Perbuatan bukan sesuatu yang
ditambahkan pada iman – keduanya harus ada bersama-sama.
2.
Iman dan Perbuatan Tidak Dapat
Dipisahkan
Ada orang yang bersandar kepada imannya dan ada pula yang
bersandar kepada perbuatannya, keduanya tidak benar. Iman itu adalah
pemikiran umum yang intelektual dan iman itu dapat digabungkan dengan
kejahatan. Sama seperti setan-setan percaya dan melanjutkan
kekejiannya, demikian pula engkau pun dapat percaya dan melanjutkan dosamu. Yang menjadi masalah bukan isi iman
yang salah, melainkan iman itu tidak disertai perbuatan baik. Tidak mungkin orang itu mengasihi
Allah dan sesamanya (perbuatan) tanpa iman. Tidak ada gunanya mengaku percaya
pada Yesus Kristus, tetapi tidak melakukan perbuatan-perbuatan baik, atau jika
engkau tidak melakukan perbuatan-perbuatan baik, maka tidak ada gunanya engkau
mengaku percaya kepada Yesus Kristus.
3.
Iman Sejati Dibuktikan Melalui
Perbuatan
Perlu harus disadari bahwa harus ada iman dahulu, baru
sesudah itu perbuatannya. Perbuatan-perbuatan harus ada, namun
bukan sebagai syarat yang mutlak ditambahkan untuk memperoleh keselamatan
karena Allah telah menyelamatkan kita bukan karena perbuatan baik yang kita
lakukan, tetapi karena rahmatNya. Iman harus ditunjukkan melalui
perbuatan-perbuatan sehingga iman itu menjadi hidup bukannya mati.
Iman disempurnakan dengan
perbuatan-perbuatan. Artinya iman membantu perbuatan terlaksana dalam
kehidupan; Iman tidak dapat dikatakan “sejati” (sempurna) tanpa perbuatan yang
nyata.[15] Iman
itu dinyatakan melalui perbuatan Lee
Strobel menulis bahwa kita dapat menunjukkan iman kita setidaknya dengan
dua cara, yakni:
1. Kita bisa menjalani kehidupan Kristen yang
rendah hati, jujur, otentik dan berserah.
2.
Kita
dapat menunjukkan iman kita dengan cara melayani sesama dan orang asing dalam
cara-cara praktis.[16]
Jadi
Iman dan Perbuatan itu adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama
lain, melainkan saling melengkapi. R.C.
Sproul menulis bahwa Relasi antara iman dan perbuatan baik merupakan suatu
hal yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Iman yang tanpa
perbuatan adalah mati, sedangkan perbuatan yang tidak berdasarkan iman adalah
dosa. Iman
dan Perbuatan kedua-duanya tak dapat dipisahkan dan sangatlah erat hubungannya
dengan Penyelamatan.[17]
III.
Kesimpulan
Keselamatan adalah anugerah Allah
semata-mata.Manusia menerima keselamatan dari Allah hanya karena iman, bukan
karena perbuatan. Setelah menerima keselamatan dengan cara demikian, manusia
harus mengerjakan keselamatan itu di dalam kehidupan melalui
perbuatan-perbuatan yang manusia lakukan dan kerjakan. Jika manusia tidak aktif
mengerjakan keselamatan dengan cara demikian sesudah ia menjadi percaya,
itu menunjukkan bahwa iman yang diakuinya dengan mulut itu adalah iman yang
mati. Itu tandanya bahwa ia belum sungguh-sungguh mengalami keselamatan. Manusia tidak diselamatkan karena perbuatan. Tetapi
perbuatan-perbuatan merupakan tanda apakah iman itu benar-benar hidup, sekaligus
perbuatan-perbuatan itulah yang akan meningkatkan kadar iman orang
percaya. Seperti dalam kitab Yakobus 2:22 dikatkan, "Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama
dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi
sempurna."
IV.
Daftar
Pustaka
......., Kamus Besar
Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2007
........, Ensiklopedi
Alkitab Masa Kini (A-L), Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2013
Antony, Hoekema, A., Diselamatkan oleh Anugerah Jakarta: Momentum, 2010
Browning,
W.R.F, Kamus Alkitab, Jakarta: Gunung
Mulia, 2014
Brownlee. Malcolm,
Pengambilan Keputusan Etis dan Faktor-Faktor di Dalamnya, Jakarta: BPK GM, 1987
Doren, W.. Kupasan
Firman Allah: Surat Yakobus Bandung: Lembaga Literatur Babtis
Hadiwijono, Harun, Iman
Kristen, Jakarta : BPK GM, 2014
Herman, Riderbos, Pemikiran Utama Teologinya Jakarta: Momentum, 2010
O’Collins, Gerald& dkk, Kamus Teologi, Yogyakarta:
Kanisius, 2006
Pierce, Chuck D. &
dkk, mengembalikan perisai iman anda, Jakarta: Immanuel, 2005
Sproul R.C., Kebenaran-kebenaran
Dasar Iman Kristen, Malang: Literatur
SAAT, 2002
Strobel, Lee, Bagaimana
Aku bisa menceritakan imanku kepada orang lain?Batam Centre: Gospel
Press, 2002
Suseno, Franz Magnis- SJ, Iman dan Hati Nurani,
Jaka
[1] Chuck D. Pierce &
Robert Heidler, mengembalikan perisai iman anda, (Jakarta: Immanuel, 2005), 28-29
[2] ..........., Ensiklopedi Alkitab Masa Kini (A-L),
(Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2013), 433
[3] Gerald O’Collins & Edward G. Farrugia, Kamus Teologi, (Yogyakarta: Kanisius,
2006), 113
[4] ........, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 2007), 425
[5] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta : BPK GM,
2014),17
[6] Malcolm Brownlee, Pengambilan keputusan etis dan faktor-faktor
di dalamnya, (Jakarta: BPK GM, 1987), 71-101
[7] …., KBBI, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007),
168
[8] W.R.F. Browning, Kamus Alkitab, (Jakarta:
Gunung Mulia, 201 4), 342
[9] Malcolm Brownlee, Pengambilan keputusan etis dan faktor-faktor
di dalamnya, 112-114
[11] R.C. Sproul, Kebenaran-kebenaran dasar iman Kristen,
(Malang: Literatur SAAT, 2002), 255
[12] Franz Magnis-Suseno SJ, Iman dan Hati Nurani, (Jakarta: Grafika Mardi Yuana, 2014), 38-39
[13] R.C. Sproul, Kebenaran-kebenaran dasar iman Kristen,
271
[16]Lee Strobel, Bagaimana Aku bisa menceritakan
imanku kepada orang lain?(Batam Centre: Gospel Press, 2002), 327-328.
[17]R.C. Sproul,
Kebenaran-kebenaran dasar Iman Kristen ,(Malang: Seminari Alkitab Asia
Tenggara, 1997), 243.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar