Kamis, 16 November 2017

Etika

Hubungan Iman dan Perbuatan Menurut Etika Kristen
I.                   Pendahuluan
Keselamatan adalah anugerah Allah semata-mata. Manusia menerima keselamatan dari Allah hanya karena iman, bukan karena perbuatan. Setelah menerima keselamatan dengan cara demikian, manusia harus mengerjakan keselamatan itu di dalam kehidupan melalui perbuatan-perbuatan yang manusia lakukan dan kerjakan. Pada pertemuan kali ini kita akan membahas mengenai hubungan iman dan perbuatan menurut etika Krisen. Semoga sajian ini dapat bermanfaat bagi kita semua.    

II.             Pembahasan
2.1.      Pengertian Iman
Iman dalam bahasa Yunaninya adalah psitis.Kata itu berarti mempunyai kepercayaan atau rasa percaya diri. Saat kita berjalan dalam iman, kita sedang mempercayai dan memperlihatkan rasa percaya diri dalam Tuhan di tengah-tengah keadaan kita. Dalam ibrani 11:1 dikatakan bahwa iman adalah dasar (penegasan, perbuatan utama) dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti (iman yang melihat sebagai fakta nyata apa yang tidak diungkapkan kepada pancaindra) dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.[1] Iman juga berarti memegang teguh janji Allah di dalam Kristus. Iman mencakup kepercayaan yang utuh dan ketaatan mutlak kepada Allah.[2] Iman juga dipandang sebagai penyerahan diri secara pribadi kepada Allah (fides qua).[3] Iman juga berarti kepercayaan atau keyakinan kepada Allah, ketetapan hati ataupun keteguhan hati.[4] Di dalam Perjanjian Lama kata iman berasal dari kata kerja aman, yang berarti “memegang teguh” dalam arti “memegang teguh kepada janji seseorang, karena janji itu dianggap teguh atau kuat, sehingga dapat diamini, dipercaya Oleh karena itu, beriman kepada Allah berarti mengamini, bukan hanya dengan akalnya, melainkan juga dengan segenap kepribadian dan cara hidupnya, kepada segala janji Allah yang telah diberikan dengan perantaraan firman dan karyaNya.[5]

2.1.1.      Unsur  iman[6]
a.      Iman Sebagai Kepercayaan Dan Kesetiaan Kepada Hal Yang Dianggap Terpenting
Iman adalah kepercayaan yang praktis pada sesuatu yang lebih dihargai dari pada semua yang lain. Iman adalah kesetiaan kepada hal yang kita anggap paling pokok dalam kehidupan kita, pusat yang memberi arti kepada seluruh kehidupan kita. Iman kita memang mempengaruhi perbuatan kita. Iman selalu mengandung kepercayaan, dan kesetiaan. Kesetiaan itu sepasang dengan kepercayaan.
b.      Iman  Sebagai  Hubungan  Perorangan  Dengan  Allah
Iman kristen berarti persekutan dengan Allah, persatuan dengan Dia, penyerahan diri ke dalam tanganNya. Perbuatan Allah membangkitkan iman kita. Sehingga iman kita sebagai tanggapan kepadaNya.  Allah yang Maha Kuasa dan Maha Kudus hendak berhubungan akrab dengan kita makhluk yang berdosa. KeagunganNya membangkitkan rasa terpesona dalam kita. Dia juga Bapa yang baik hati dan penuh kasih. Dia mengkehendaki supaya kita patuh dan percaya kepadaNya.
c.       Iman  Sebagai  Pengikutsertaan  Dalam  Pekerjaan  Allah
Kita selalu mengalami kesukaran dalam menafsirkan tanda-tanda kehadiran Allah disekitar kita. Pertama, pekerjaan Allah bersifat tersembunyi. Dan tidak mengiklankan perbuatanNya. Allah biasanya tidak memberikan tanda spektakuler yang menunjukkan kehadiranNya secara nyata. Kedua, bukan Allah saja yang bekerja dalam dunia melainkan manusia dan kuasa-kuasa gelap juga bekerja.Pekerjaan Allah sukar dilihat karena dengan perbuatan manusia yang tidak selalu selaras dengan kehendak Allah. Perbuatan atau pekerjaan Allah hanya bisa dilihat dengan iman, dan kita harus mencoba mengerti dan menanggapi pekerjaan Allah dalam dunia dan kehidupan kita.
d.      Iman Sebagai  Pendirian Tentang Apa Yang Benar
Teologia menguraikan sifat dasar dunia, etika menguraikan tanggung jawab manusia berdasarkan sifat dasar dunia itu. Karena adalah baik bila menciptakan dunia yang baik, kita harus berbuat baik (Matius 5:48). Karena Tuhan Allah kita adalah kudus, maka kita harus kudus (Im. 19: 2). Dalam etika Kristen perintah Tuhan berdasar atas sifatNya dan pekerjaanNya. Theologia Kristen berkata bahwa dunia menuju keadilan, kebaikan, kasih, dan ketulusan.

2.2.      Perbuatan
2.2.1.      Defenisi Perbuatan
Dalam KBBI “Perbuatan” adalah yang menunjukkan suatu tingkah laku mengerjakan, membuat, dan melakukan sesuatu hal mengenai perbuatan atau perlakuan. Baik itu perlakuan buruk, maupun perlakuan baik.[7] Perbuatan dalam PB menyatakan perilaku kemanusiaan. Perbuatan baik adalah jawaban manusia atas anugerah Allah, tetapi manusia tidak memperoleh Anugerah Allah oleh perbuatan baik.[8]
2.2.2.       Tabiat (Karakter) dan Perbuatan
Tabiat yang baik menghasilkan kelakuan yang baik. Orang-orang yang jujur biasanya menyatakan yang benar. Orang-orang yang berani cenderung bertindak dengan berani. Orang-orang yang tamak cenderung melakukan apa saja yang perlu untuk beroleh banyak. Meskipun perbuatan-perbuatan kita ialah hasil tabiat kita seperti halnya buah adalah hasil pohon namun tabiat tidak menentukan perbuatan seperti pohon menentukan buahnya. Tabiat kita mempengaruhi kita. Tabiat yang utuh memberi kemantapan dan kuasa kepada perbuatan-perbuatan kita. Tabiat dapat didefenisikan sebagai susunan batin seseorang yang memberi arah dan ketertiban kepada keinginan, kesukaan dan perbuatan orang itu. Perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan tabiat kita lebih mudah dilakukan dan tidak menyebabkan konflik batin. Perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan tabiat kita lebih sukar dilakukan dan biasanya menyebabkan konflik batin.[9]

2.3.      Iman dan Perbuatan
         Rasul Paulus menyatakan bahwa, “Kita dibenarkan hanya oleh iman dan bukan oleh perbuatan-perbuatan berdasarkan hukum taurat (Rm 3:28).[10]Relasi antara iman dan perbuatan baik merupakan suatu hal yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Meskipun perbuatan-perbuatan baik kita tidak menambahkan apa-apa bagi iman kita dihadapan Allah, meskipun kondisi satu-satunya dari pembenaran kita adalah iman kita di dalam Kristus, tetapi apabila perbuatan-perbuatan baik tidak mengikuti pengakuan iman kita, maka itu merupakan indikasi yang nyata bahwa tidak memiliki iman yang membenarkan. Pembenaran yang sejati selalu menghasikan perbuatan-perbuatan baik di dalam proses pengudusan.[11] Yesus berkata “apapun yang dilakukan seseorang bagi saudaranya yang paling hina, dilakukannya bagi Yesus”. Yesus mengatakan bahwa kalau kita membuka hati pada sesama kita seakan-akan membukanya pada Yesus. Melainkan, dalam sesama yang berkebutuhan kita betul-betul bertemu Yesus! Maka orang yang membuka hatinya kepada saudaranya bukan karena perhitungan, atau karena diancam, atau karena khawatir dianggap egois, melainkan karena hatinya menyadari bahwa ia dibutuhkan dan ia membuka hatinya dan tangannya, dia itu sekaligus mengambil sikap terhadap Yang baik Yang Mutlak. Dan itu hanya dapat dilakukan dalam kekuatan Roh Allah yang sekaligus Roh Yesus. Keterbukaan hatinya adalah iman dalam arti yang sebenar-benarnya karena berarti ia mengambil sikap terhadap panggilan Yang Mutlak dan Yang baik.[12]

2.4.      Hubungan Iman dan Perbuatan Menurut Etika Kristen
           Orang Kristen yang tetap tidak yakin akan status keselamatan mereka disebabkan oleh berbagai macam pertanyaan yang menyebabkan mereka lumpuh dalam berjalan bersama Kristus. Mereka tersandung dalam keraguan dan sangat rapuh dan mudah diserang oleh setan. Seseorang dapat berpikir bahwa ia memilki iman yang menyelamatkan tetapi sebenarnya ia belum memilikinya. Pengujian untuk jaminan keselamatan yang otentik bisa di lihat dari dua sisi. Yang pertama, kita harus menguji hati kita sendiri untuk melihat apakah kita memiliki iman yang benar di dalam Kristus. Kita harus memeriksa apakah kita memiliki kasih yang sejati pada Kristus yang dinyatakan di dalam Alkitab. Kedua, kita harus memeriksa buah dari iman kita.[13] Iman tidak mungkin bisa dipisahkan dengan perbuatan-perbuatan, karena seseorang yang mengaku diri beriman kepada Allah, ia harus menjalankan perintah-perintah-Nya dan otomatis perbuatan-perbuatannya mencerminkan bahwa seseorang itu beriman kepada Allah atau bukan.   Doren Wjdana menyatakan bahwa Perbuatan tanpa iman adalah perbuatan yang sia-sia. Iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong. Iman yang bekerja sama dengan perbuatan adalah iman sejati.[14]

2.5.      Iman dan Perbuatan dalam Konteks Keselamatan
1.      Iman Sejati Dipraktekkan Dalam Perbuatan
      Tidak ada gunanya kalau seseorang mempunyai iman yang tidak disertai perbuatan. Iman itu sendiri tidak dapat menyelamatkan atau dengan kata lain iman itu tidak akan diterima Allah. Disini yang dimaksud adalah perbuatan-perbuatan baik seperti belas kasihan dan pemberian sedekah kepada orang miskin yang berkekurangan (Yakobus 2:24-26); Perbuatan iman hasil moral dari kesalehan sejati dan khususnya perbuatan kasih. Iman yang tidak disertai dengan perbuatan adalah iman yang palsu. Hanya iman palsu yang tidak dapat menghasilkan perbuatan dan tidak mampu menyelamatkan. Perbuatan bukan sesuatu yang ditambahkan pada iman – keduanya harus ada bersama-sama.
2.      Iman dan Perbuatan Tidak Dapat Dipisahkan
      Ada orang yang bersandar kepada imannya dan ada pula yang bersandar kepada perbuatannya, keduanya tidak benar. Iman itu  adalah pemikiran umum yang intelektual dan iman itu dapat digabungkan dengan kejahatan. Sama seperti setan-setan percaya dan melanjutkan kekejiannya, demikian pula engkau pun dapat percaya dan melanjutkan dosamu. Yang menjadi masalah bukan isi iman yang salah, melainkan iman itu tidak disertai perbuatan baik. Tidak mungkin orang itu mengasihi Allah dan sesamanya (perbuatan) tanpa iman. Tidak ada gunanya mengaku percaya pada Yesus Kristus, tetapi tidak melakukan perbuatan-perbuatan baik, atau jika engkau tidak melakukan perbuatan-perbuatan baik, maka tidak ada gunanya engkau mengaku percaya kepada Yesus Kristus.
3.      Iman Sejati Dibuktikan Melalui Perbuatan
      Perlu harus disadari bahwa harus ada iman dahulu, baru sesudah itu perbuatannya. Perbuatan-perbuatan harus ada, namun bukan sebagai syarat yang mutlak ditambahkan untuk memperoleh keselamatan karena Allah telah menyelamatkan kita bukan karena perbuatan baik yang kita lakukan, tetapi karena rahmatNya. Iman harus ditunjukkan melalui perbuatan-perbuatan sehingga iman itu menjadi hidup bukannya mati.
Iman disempurnakan dengan perbuatan-perbuatan. Artinya  iman membantu perbuatan terlaksana dalam kehidupan; Iman tidak dapat dikatakan “sejati” (sempurna) tanpa perbuatan yang nyata.[15] Iman itu dinyatakan melalui perbuatan Lee Strobel menulis bahwa kita dapat menunjukkan iman kita setidaknya dengan dua cara, yakni: 
1.       Kita bisa menjalani kehidupan Kristen yang rendah hati, jujur, otentik dan berserah.
2.      Kita dapat menunjukkan iman kita dengan cara melayani sesama dan orang asing dalam cara-cara praktis.[16]
Jadi Iman dan Perbuatan itu adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, melainkan saling melengkapi. R.C. Sproul menulis bahwa Relasi antara iman dan perbuatan baik merupakan suatu hal yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Iman yang tanpa perbuatan adalah mati, sedangkan perbuatan yang tidak berdasarkan iman adalah dosa. Iman dan Perbuatan kedua-duanya tak dapat dipisahkan dan sangatlah erat hubungannya dengan Penyelamatan.[17]

III.             Kesimpulan
Keselamatan adalah anugerah Allah semata-mata.Manusia menerima keselamatan dari Allah hanya karena iman, bukan karena perbuatan. Setelah menerima keselamatan dengan cara demikian, manusia harus mengerjakan keselamatan itu di dalam kehidupan melalui perbuatan-perbuatan yang manusia lakukan dan kerjakan. Jika manusia tidak aktif mengerjakan keselamatan dengan cara  demikian sesudah ia menjadi percaya, itu menunjukkan bahwa iman yang diakuinya dengan mulut itu adalah iman yang mati. Itu tandanya bahwa ia belum sungguh-sungguh mengalami keselamatan. Manusia tidak diselamatkan karena perbuatan. Tetapi perbuatan-perbuatan merupakan tanda apakah iman itu benar-benar hidup, sekaligus perbuatan-perbuatan itulah yang akan meningkatkan kadar iman orang percaya. Seperti dalam kitab Yakobus 2:22 dikatkan,  "Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna."
IV.             Daftar Pustaka
......., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2007
........, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini (A-L), Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2013
Antony, Hoekema, A., Diselamatkan oleh Anugerah Jakarta: Momentum, 2010
Browning, W.R.F, Kamus  Alkitab, Jakarta: Gunung Mulia, 2014
Brownlee. Malcolm, Pengambilan Keputusan Etis dan Faktor-Faktor di Dalamnya, Jakarta: BPK GM, 1987
Doren, W.. Kupasan Firman Allah: Surat Yakobus Bandung: Lembaga Literatur Babtis
Hadiwijono, Harun, Iman Kristen, Jakarta : BPK GM, 2014
Herman, Riderbos,  Pemikiran Utama Teologinya Jakarta: Momentum, 2010
O’Collins,  Gerald& dkk, Kamus Teologi, Yogyakarta: Kanisius, 2006
Pierce, Chuck D. & dkk, mengembalikan perisai iman anda, Jakarta: Immanuel, 2005
Sproul R.C., Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen, Malang: Literatur  SAAT, 2002
Strobel, Lee, Bagaimana Aku bisa menceritakan imanku kepada orang lain?Batam Centre: Gospel Press, 2002
Suseno, Franz Magnis- SJ, Iman dan Hati Nurani, Jaka


[1] Chuck D. Pierce & Robert  Heidler, mengembalikan perisai iman anda, (Jakarta: Immanuel, 2005), 28-29
[2] ..........., Ensiklopedi Alkitab Masa Kini (A-L), (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2013), 433
[3] Gerald O’Collins  & Edward G. Farrugia, Kamus Teologi, (Yogyakarta: Kanisius, 2006), 113
[4] ........, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), 425
[5] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta : BPK GM, 2014),17
[6] Malcolm Brownlee, Pengambilan keputusan etis dan faktor-faktor di dalamnya, (Jakarta: BPK GM, 1987), 71-101
[7] …., KBBI, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), 168
[8] W.R.F. Browning, Kamus  Alkitab, (Jakarta: Gunung Mulia, 201 4), 342
[9] Malcolm Brownlee, Pengambilan keputusan etis dan faktor-faktor di dalamnya, 112-114
[10]Hoekema, Antony A., Diselamatkan oleh Anugerah (Jakarta: Momentum, 2010),180
[11] R.C. Sproul, Kebenaran-kebenaran dasar iman Kristen, (Malang: Literatur  SAAT, 2002), 255
[12] Franz Magnis-Suseno SJ, Iman dan Hati Nurani, (Jakarta: Grafika Mardi Yuana, 2014), 38-39
[13] R.C. Sproul, Kebenaran-kebenaran dasar iman Kristen, 271
[14]W. Doren. Kupasan Firman Allah: Surat Yakobus (Bandung: Lembaga Literatur Babtis) ,54
[15]Riderbos Herman, Paulus: Pemikiran Utama Teologinya (Jakarta: Momentum, 2010) ,135
[16]Lee Strobel, Bagaimana Aku bisa menceritakan imanku kepada orang lain?(Batam Centre: Gospel Press, 2002), 327-328.
[17]R.C. Sproul, Kebenaran-kebenaran dasar Iman Kristen ,(Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1997), 243.

Tidak ada komentar: